Sunday 20-09-2026

Jangan Terjebak Potongan Video, Ini Konteks Pernyataan Presiden Prabowo Soal “Pakar”

  • Created Sep 20 2026
  • / 48 Read

Jangan Terjebak Potongan Video, Ini Konteks Pernyataan Presiden Prabowo Soal “Pakar”

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai para pakar menjadi sorotan setelah potongan videonya beredar luas di media sosial. Dalam cuplikan tersebut, Prabowo terdengar mengatakan, “saking pintarnya jadi goblok”. Potongan kalimat itu kemudian memunculkan berbagai respons karena dapat dipahami sebagai kritik keras terhadap kelompok intelektual. Namun, untuk memahami maksud pernyataan tersebut secara utuh, konteks pidato perlu diperhatikan, bukan hanya satu bagian yang paling kontroversial.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat, 18 September 2026. Sebelum menyinggung para pakar, Prabowo berbicara mengenai cita-citanya melihat Indonesia menjadi negara yang sejahtera, termasuk kondisi ketika tidak ada masyarakat yang kelaparan dan anak-anak Indonesia memperoleh gizi yang cukup. Ia juga mengaitkan pemenuhan gizi dan pencegahan stunting dengan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Dalam bagian berikutnya, Prabowo kemudian mengarahkan pembicaraan kepada sejumlah pihak yang disebutnya sebagai pakar. Ia mengatakan, “Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok.” Pernyataan tersebut disampaikan ketika Presiden Prabowo membahas kritik yang menurut penilaiannya telah masuk ke dalam tudingan yang ia kategorikan sebagai fitnah. 

Karena itu, kalimat tersebut perlu dibaca bersama dengan bagian pidato sebelum dan sesudahnya. Setelah mengucapkan pernyataan tersebut, Prabowo kembali berbicara mengenai pentingnya kejujuran intelektual. Ia menyampaikan bahwa seseorang yang memiliki kepintaran atau kepakaran tetap harus menjunjung kejujuran sebagai seorang cendekiawan. Dengan demikian, bagian lain dari pidato menunjukkan bahwa pembahasan yang dibawa Prabowo bukan semata-mata mengenai apakah seseorang pintar atau tidak, melainkan mengenai bagaimana kepakaran digunakan dalam menyampaikan pandangan dan kritik.

Istilah “kejujuran intelektual” sendiri menjadi salah satu bagian penting dalam pernyataan Prabowo. Dalam konteks pidatonya, ia menekankan bahwa kepakaran menurut pandangannya harus disertai tanggung jawab moral. Ia juga menyinggung adanya pihak yang menurutnya menggunakan status sebagai pakar untuk menyampaikan tudingan yang dianggapnya sebagai fitnah.

Di era media sosial, persoalan konteks menjadi semakin penting. Sebuah pidato panjang dapat dengan mudah berubah menjadi video berdurasi beberapa detik yang hanya menampilkan satu kalimat paling kontroversial. Kalimat “saking pintarnya jadi goblok” memang memiliki daya tarik sebagai potongan video karena pilihan katanya keras dan mudah dikutip. Namun, potongan tersebut tidak secara otomatis menjelaskan keseluruhan gagasan yang disampaikan dalam pidato. Yang jelas, jangan sampai potongan video membuat kesimpulan muncul lebih cepat daripada pemahaman terhadap keseluruhan konteks.

Share News


For Add Product Review,You Need To Login First