Wednesday 28-10-2026

Laba BMRI Tumbuh 20,7 persen hingga Kuartal III-2026

Posted By Ezra Wirotama
  • Created Oct 28 2026
  • / 261 Read

Laba BMRI Tumbuh 20,7 persen hingga Kuartal III-2026

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan kinerja keuangan yang solid hingga kuartal III-2026 dengan membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 45,5 triliun. Capaian ini tumbuh 20,7% secara tahunan (year on year/yoy), ditopang oleh ekspansi kredit berbasis ekosistem, lonjakan transaksi digital, serta efisiensi operasional bisnis.  

 

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menjelaskan bahwa dari sisi fungsi intermediasi, penyaluran kredit secara bank only mencapai Rp 1.605,8 triliun per September 2026 atau tumbuh 16% yoy. Pertumbuhan kredit tersebut diimbangi oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp 1.750,2 triliun, meningkat 17,7% yoy. Total aset perseroan pun terkerek naik 20,1% yoy menjadi Rp 2.404,1 triliun. 

 

Ekspansi kredit dan peningkatan aktivitas transaksi nasabah secara langsung memperkuat pendapatan perseroan. Hingga September 2026, pendapatan bunga tumbuh 7,08% yoy menjadi Rp 97,3 triliun, sedangkan pendapatan nonbunga (fee-based income) melonjak 13,8% yoy menjadi Rp 29,4 triliun.  

 

Secara keseluruhan, pendapatan bunga bersih naik 6,2% yoy menjadi Rp 61,2 triliun, sehingga total pendapatan bank only terangkat 8,54% yoy mencapai Rp 90,6 triliun. Kenaikan pendapatan ini kian optimal seiring keberhasilan manajemen menekan biaya operasional sebesar 9,03% yoy menjadi Rp 32,7 triliun.  

 

"Pendapatan kami terus tumbuh seiring pertumbuhan kredit dan meningkatnya transaksi nasabah. Kami melihat fee-based income menjadi penopang penting untuk menjaga pertumbuhan laba. Semakin aktif nasabah bertransaksi, semakin besar pendapatan berulang yang bisa kami bangun," ujar Novita dalam keterangannya, Jumat (23/10/2026).

 

Dia bilang, di samping itu BMRI juga terus memperkuat layanan untuk memenuhi lebih banyak kebutuhan transaksi nasabah. Di saat yang sama, operasional semakin efisien, sehingga kombinasi tersebut dapat menjaga pertumbuhan laba saat ini.  

 

Efisiensi operasional yang dimaksud tercermin pada cost to income ratio (CIR) bank only yang membaik signifikan menjadi 36,1% dibanding 43% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Tingkat imbal hasil ekuitas (return on equity/ROE) berada di posisi 23,6%, sementara imbal hasil aset (return on assets/ROA) tercatat sebesar 2,99%.  

 

Selain bisnis utama, Bank Mandiri juga tengah mengembangkan bisnis bullion yang disokong pengelolaan risiko dan kualitas aset secara berkelanjutan. 

 

Kualitas Aset Tetap Terjaga  

 

Di tengah ekspansi bisnis yang agresif, kualitas aset perseroan tetap terjaga kokoh. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bruto bank only membaik ke level 0,98% per September 2026 dari posisi 1,03% di tahun sebelumnya. Rasio NPL segmen korporasi tercatat amat rendah sebesar 0,30%, sedangkan NPL kredit ekosistem turunan berada di tingkat 0,90%.

 

Kapasitas pencadangan juga sangat memadai dengan NPL coverage ratio bank only mencapai 243% dan cost of credit sebesar 0,55%. Sementara itu, rasio kredit dalam perhatian khusus (special mention loan/SML) melandai dari 3,35% menjadi 2,88%.  

 

Kinerja profitabilitas yang kokoh itu pun mengalir ke pemegang saham. Sepanjang tahun 2026, Bank Mandiri telah membagikan total dividen sebesar Rp 50,6 triliun, termasuk di dalamnya dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp 6,16 triliun. Struktur permodalan pun tetap solid dengan capital adequacy ratio (CAR) bank only sebesar 18,4%.  

 

Penguatan bisnis Bank Mandiri difokuskan pada perluasan pembiayaan berbasis ekosistem yang menghubungkan korporasi, UMKM, hingga nasabah individu. Direktur Operations Bank Mandiri, Timothy Utama, menyebutkan bahwa kredit korporasi mencatatkan nilai tertinggi sebesar Rp 700 triliun per September 2026, tumbuh 22% yoy.  

 

Konektivitas ini turut memicu pertumbuhan kredit ekosistem turunan (mencakup segmen SME, mikro, dan konsumer) hingga mencapai Rp 174 triliun atau naik 9% yoy. Khusus pembiayaan mikro non-subsidi, nilainya tumbuh 12,9% yoy menjadi Rp 31,2 triliun dan telah menjangkau pelaku usaha di 37 provinsi.

 

Secara regional (bank only), pertumbuhan kredit dicatatkan di berbagai wilayah, antara lain Bali & Nusa Tenggara yang tumbuh 10,3% yoy, Jawa & DIY naik 5,97% yoy, serta Sumatra tumbuh 5,09% yoy per September 2026.

 

"Kami menghubungkan layanan bagi perusahaan, pelaku UMKM, dan nasabah individu agar kebutuhan transaksi serta pembiayaan dapat terlayani dengan lebih baik. Langkah ini membuka akses bagi usaha untuk berkembang dan memperluas kegiatan ekonomi di daerah," tutur Timothy.

Share News


For Add Product Review,You Need To Login First