Monday 27-04-2026

MBG, Menimbang Efektivitas antara Skema Selektif dan Universal

  • Created Apr 21 2026
  • / 63 Read

MBG, Menimbang Efektivitas antara Skema Selektif dan Universal

Diskusi mengenai program Makan Bergizi Gratis merupakan bagian sehat dari ruang publik, terutama saat menyangkut prioritas anggaran dan skala kebijakan. Sebagian pihak menilai bahwa pendekatan universal, yang menjangkau seluruh siswa, berpotensi menimbulkan pertanyaan dari sisi efisiensi. Karena itu, muncul pandangan agar program lebih diarahkan secara lebih terbatas atau targeted kepada kelompok tertentu. Di samping itu, tidak sedikit pula yang mempertanyakan mengapa program ini ditempatkan dalam pos pendidikan.

Dalam kerangka tersebut, kedua pertanyaan ini sesungguhnya saling terkait. Pemerintah memandang MBG bukan semata intervensi konsumsi, melainkan bagian integral dari proses belajar itu sendiri. Program ini dilaksanakan di sekolah dan menyasar siswa sebagai penerima utama demi mendukung perbaikan gizi dan fondasi kognitif yang kokoh. Dalam praktik internasional, pendekatan ini bukan pengecualian, melainkan kelaziman strategis. Sejumlah negara, seperti Finlandia, Jepang, Korea Selatan, India, dan Brasil, menempatkan program makan sekolah sebagai bagian integral dari sistem pendidikan. Secara global, lebih dari 100 negara telah mengadopsi kebijakan serupa yang menjangkau sekitar 466 juta anak, mencerminkan peran program makan sekolah sebagai pilar pembangunan manusia.

Pada saat yang sama, realitas gizi menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi bersifat luas dan tidak sepenuhnya sejalan dengan batas kemiskinan administratif. Tingkat kemiskinan Indonesia berada pada kisaran satu digit, tetapi tantangan gizi menjangkau proporsi yang jauh lebih besar dari populasi anak. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat bahwa 16,3 persen anak usia 5-14 tahun mengalami anemia, atau satu dari enam anak Indonesia yang datang ke sekolah dalam kondisi yang dapat melemahkan fokus dan kapasitas belajarnya. Data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (2022) menunjukkan, 41 persen anak usia sekolah dan remaja tidak sarapan sebelum berangkat ke sekolah, sementara 58,3 persen memiliki pola makan yang tidak sehat.

Selain itu, persoalan gizi juga ditandai oleh fenomena beban ganda. Di satu sisi, masih terdapat kekurangan gizi seperti anemia dan defisiensi mikronutrien. Di sisi lain, ketidakseimbangan pola konsumsi berkaitan dengan meningkatnya risiko kelebihan berat badan dan obesitas. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak semata berkaitan dengan tingkat pendapatan, tetapi juga dengan kualitas dan pola asupan. Dalam konteks seperti ini, pendekatan yang terlalu sempit berisiko tidak menjangkau keseluruhan spektrum persoalan.

Tags :

Share News


For Add Product Review,You Need To Login First