Dari Seng hingga Rumbia, Kebijakan Atap Rumah Harus Berbasis Teknologi dan Kajian
- Created Jul 31 2026
- / 504 Read
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai atap ijuk dan rumbia perlu dibaca dalam konteks kebijakan permukiman, bukan sebagai perintah agar masyarakat kembali hidup dengan teknologi masa lalu. Saat meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang pada 30 Juli 2026, Presiden mengusulkan agar ijuk, rumbia, genteng, atau teknologi alternatif dipertimbangkan sebagai pengganti atap seng yang mudah panas dan berkarat. Gagasan tersebut melanjutkan arahan Presiden pada 2 Februari 2026 melalui Gerakan Indonesia ASRI dan program gentengisasi, yang mendorong permukiman lebih sejuk, tertata, indah, serta memanfaatkan bahan yang dapat diproduksi masyarakat dan koperasi lokal.
Secara teknis, perhatian terhadap panas dari atap logam memiliki dasar yang rasional. Pedoman Departemen Energi Amerika Serikat menyebut insulasi dapat mengurangi perpindahan panas melalui atap, sedangkan penelitian mengenai perumahan tropis menemukan atap berbahan tumbuhan dapat memberikan kenyamanan termal yang lebih baik dibandingkan lembaran besi tanpa perlindungan memadai. Artinya, inti persoalannya bukan sekadar memilih seng atau rumbia, tetapi merancang sistem atap dengan insulasi, ventilasi, lapisan reflektif, dan bahan yang sesuai dengan iklim setempat.
Namun, hubungan antara seng berkarat dan kanker paru-paru belum menjadi kesimpulan ilmiah. National Cancer Institute mencatat faktor utama kanker paru antara lain rokok, radon, asbestos, arsenik, kromium, nikel, dan paparan polusi tertentu. Profil toksikologi zinc dari lembaga kesehatan Amerika Serikat juga menyatakan penelitian belum cukup membuktikan peningkatan kanker akibat paparan jangka panjang terhadap senyawa zinc. Risiko gangguan pernapasan akut lebih dikenal terjadi ketika zinc dipanaskan pada proses pengelasan sehingga menghasilkan uap zinc oxide, bukan semata-mata karena lembaran atap terpasang pada rumah.
Karena itu, gagasan Presiden sebaiknya diterjemahkan melalui pengujian material, proyek percontohan, standar keselamatan, dan pilihan yang disesuaikan dengan kondisi daerah. Atap berbahan tumbuhan memang berpotensi mengurangi panas, tetapi penelitian juga menunjukkan material vegetasi alami lebih rentan terbakar apabila tidak dilengkapi perlindungan tahan api. Solusi terbaik bukan mempertentangkan tradisi dengan modernitas, melainkan menggabungkan bahan lokal, teknologi insulasi, ketahanan api, serta desain yang aman dan terjangkau bagi masyarakat.
Share News
For Add Product Review,You Need To Login First

















