Sunday 22-02-2026

Terobosan High-Politics dan Wujud Kenegarawanan Presiden Prabowo Subianto terhadap Perjuangan Palestina

Posted By Admin
  • Created Feb 17 2026
  • / 648 Read

Terobosan High-Politics dan Wujud Kenegarawanan Presiden Prabowo Subianto terhadap Perjuangan Palestina

Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di tengah hiruk-pikuk panggung geopolitik global dengan kecenderungan yang semakin dinamis yang terpicu oleh berbagai macam nuansa kepentingan politik di berbagai titik dan dari berbagai arah, adalah wujud dari karakter kenegarawanan dan pemahamannya yang mendalam terhadap situasi high-politics di tingkat global, terutama bagi sisi perjuangan rakyat Palestina untuk merdeka secara penuh. Presiden Prabowo hadir untuk menggaungkan kembali upaya untuk mewujudkan perdamaian dunia sebagai mandat utama dari konstitusi Republik Indonesia sejak negara bhinneka tunggal ika ini diproklamirkan. Dari sekian banyak titik persinggungan geopolitik hari ini yang masing-masing membawa potensi ancaman pada perdamaian dunia, Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kepedulian yang intensif yang khusus terhadap perjuangan Palestina. Ditengah berbagai bentuk upaya untuk menemukan solusi terbaik bagi kawasan ini yang tidak henti-hentinya diupayakan  dalam berbagai inisiatif sebelumnya, dalam settingan kita sebagai negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, kala itu hanya mampu bermain diplomatis jarak jauh melalui forum-forum seperti OKI, 'hanya' sebagai penyambung suara untuk kepentingan Palestina di PBB.

 

Terobosan Prabowo akhir-akhir ini menunjukkan wujud dari komitmen konstitusi Republik Indonesia untuk terus mengawal setiap tahapan  negosiasi damai melalui pendekatan diplomatis strategis  bagi Palestina, tidak lagi sebagai pendukung diplomatik bagi perjuangan Palestina, tetapi sebagai pengambil keputusan di meja negosiasi secara langsung, memposisikan Indonesia kali ini melalui langkah maju dari Presiden Prabowo Subianto untuk tidak hanya   ensuring a say on behalf of the constitution for freedom to Palestine sebagai sebuah 'pengikat sejarah' antara dua negara,  melainkan juga cementing a way closer to it, sebagai langkah maju dari posisi sebelumnya. Keputusan Presiden Prabowo Subianto adalah sebuah terobosan yang akan menjadi momentum sejarah yang akan terpatri sebagai bentuk nyata dari komitmen Indonesia untuk ikutserta dalam "melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial".

 

Bagi sebagian pemimpin dunia yang mungkin 'tidak' memiliki 'hubungan yang kuat' dan mengakar seperti komitmen hubungan antara Palestina dan Republik Indonesia, permasalahan Palestina berikut konflik di Gaza mungkin hanyalah dipandang sebagai sebuah 'komoditi politik' yang hanya akan diperlakukan sebagai salah satu variabel dalam kalkulasi politik kekuasaan berbasis kepentingan kawasan. Namun bagi Prabowo Subianto sebagai presiden dari sebuah negara yang memiliki standing point yang tegas terhadap perjuangan Palestina sejak awal, adalah penting untuk mengawal secara aktif dan partisipatif di setiap upaya damai yang berhubungan dengan kemerdekaan penuh Palestina. Statesmanship dari Presiden Prabowo Subianto dalam konteks ini memberikan sinyal betapa Indonesia memahami akan perlunya terobosan dalam bentuk kontribusi sikap politik dan diplomasi strategis  dalam ruang/realm high-politics seperti pada permasalahan Palestina. Prabowo mewujudkan apa yang telah dikatakan sebelumnya bahwa dukungan untuk kemerdekaan Palestina adalah sebagai sebuah tekad individual, melainkan juga tekad Indonesia sebagai sebuah bangsa. Prabowo Subianto tidak sedang berbicara sebagai seorang politisi dalam berbagai panggung dunia untuk isu ini, melainkan sebagai seorang negarawan yang dengan kebijaksanaannya memposisikan permasalahan Palestina sebagai sebuah high politics, sebuah keharusan strategi politis yang kadang dinilai publik dalam negeri sebagai sebuah langkah yang tergesa. Saya meyakini bahwa kehadiran dan terobosan Presiden Prabowo Subianto dalam mengawal resolusi konflik di kawasan tersebut dalam jarak yang paling dekat yang bisa diraih, adalah sebuah keharusan, tidak hanya karena mandat konstitusi saja, melainkan sebagai cerminan dari wisdom yang diterjemahkan melalui diplomasi strategis demi berakhirnya penderitaan rakyat Gaza dan Palestina secara umum, once and for all.

 

Seperti yang kita amati bersama, dalam beberapa bulan terakhir, kita menyaksikan bagaimana Indonesia menunjukkan sebuah transformasi yang determinan, berubah dari menjadi hanya salah satu corong diplomasi kemanusiaan paling lantang di Asia untuk kemerdekaan Palestina, menjadi salah satu faktor yang mungkin menentukan untuk pencapaian cita-cita tersebut. Meskipun transformasi tersebut diretas perlahan ditengah arus pertanyaan dan pernyataan yang kadang meragukan, langkah nyata dari semangat solidaritas ini ditempuhi oleh Presiden Prabowo melalui sebuah orkestrasi strategi yang penuh kerumitan dan hati-hati.  

 

Sikap dan posisi Presiden Prabowo sebagai representasi dari rakyat Indonesia yang anti penjajahan terhadap Palestina terkadang melampaui kewajiban konstitusional semata, itu adalah bentuk dari kenegarawanan yang dipertunjukkan di tingkat global. Ada dimensi duka kolektif yang Prabowo alamatkan, memberi bobot dan perhatian yang determinan pada fakta itu. Dalam berbagai forum internasional, dari KTT di Yordania hingga pidato-pidato kenegaraan, bahasa tubuh, word of choice Prabowo menunjukkan segalanya salam konteks pembelaannya terhadap perdamaian dunia dan masalah Palestina. Kita melihat seorang jenderal purnawirawan yang matanya berkaca-kaca saat membicarakan nasib anak-anak Gaza yang terkubur reruntuhan. Suaranya, yang biasanya tegas menggelegar, kerap melunak dan bergetar ketika menyentuh isu kemanusiaan ini.

 

"kita kirim bantuan, kita kirim kapal, kita kirim Hercules berkali-kali. Saya kira rakyat Palestina dan rakyat Timur Tengah melihat bagaimana komitmen Indonesia. Kita juga kirim bantuan pangan cukup besar, ribuan ton beras kita kirim. Dan kita terus commit untuk mendukung ini". (Prabowo Subianto)

 

Tentu ini bukan gimmick, ini adalah high politics yang sangat perlu. Prabowo memposisikan rasa sakit seorang ibu di Rafah sebagai rasa sakit ibu di Indonesia. Ia tidak sedang meng-insinuasi-kan narasi bahwa membiarkan 'genosida' terjadi adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang dianut oleh rakyat dan konstitusi Indonesia. Empati ini telah dan akan terus diterjemahkan menjadi kebijakan negara yang masif dan positif, dalam berbagai bentuk yang diperlukan. Di bawah komandonya, keran bantuan Indonesia dibuka selebar-lebarnya. Kita tidak hanya bicara soal donasi masyarakat, tetapi intervensi negara secara penuh, state-sponsored aid. Sebelumnya semasa menjadi Menhan, Prabowo mengawal kebijakan Presiden Joko Widodo dalam inisiatif pengiriman kapal rumah sakit TNI AL, KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992, untuk misi kemanusiaan; misi airdrop bantuan logistik menggunakan pesawat Hercules C-130 TNI AU yang menembus blokade udara, sebuah operasi yang berisiko tinggi namun diambil demi memastikan susu dan gandum sampai ke tangan pengungsi yang sangat membutuhkan.

 

"total bantuan yang sudah diberikan Indonesia mencapai US$36 juta beserta 1.200 ton bantuan kemanusiaan melalui jalur udara" (Wamenlu RI, Anis Matta)

 

Lebih jauh, pemerintah telah meningkatkan kontribusi pendanaan bagi UNRWA di saat banyak negara Barat justru menarik diri. Indonesia juga membuka pintu rumah sakit militernya, seperti RSPAD Gatot Soebroto dan RS Panglima Besar Soedirman, untuk merawat pasien-pasien Palestina yang dievakuasi. Langkah-langkah ini menegaskan pesan Prabowo bahwa dalam keadaan apapun, dalam batas kemampuan seperti apapun, rakyat dan pemerintahan Indonesia tidak akan pernah berpaling. Dalam sudut pandang paradigma konstruktivisme, dalam diskursus hubungan internasional, Presiden Prabowo memberi definisi baru dalam terminologi kenegarawanan. Statesmanship tidak lagi merujuk pada inward-looking public affairs, tetapi statesmanship yang menjadi katalisator dari kebutuhan domestik akan perdamaian dan stabilitas dunia, yang memajukan outward-looking policies sebagai cerminan dari inward-looking public affairs. Publik Indonesia yang memiliki hasrat panjang terhadap kemerdekaan Palestina, kali ini terasa lebih dekat melalui terobosan high politics Presiden Prabowo Subianto, tidak hanya melalui diplomasi pada inti, melainkan juga melalui komitmennya pada masalah evakuasi medis dan pendidikan. Tercatat lebih dari 1000 warga Palestina yang dirawat di berbagai rumah sakit Indonesia, dan dengan jumlah yang kurang lebih sama, generasi Palestina yang diberikan beasiswa pendidikan di Indonesia. Meski pada titik ini, tidak semua inisiatif dukungan dan komitmen dari kita mendapat sambutan positif dari faksi yang menjadi bagian dari simpul konflik di Palestina. Ditengah berbagai upaya negosiasi damai, salah satunya dengan rancangan pengiriman pasukan perdamaian PBB dari pasukan Indonesia, Hamas masih menunjukkan rasa khawatirnya terhadap komitment tersebut.

 

Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono dalam sebuah siniar bersama Gita Wiryawan mengeluarkan sebuah diksi yang sangat menarik bagi saya. To have a say and a way, dalam perenungan beliau mengenai keikutsertaan Indonesia era Presiden Prabowo Subianto dalam Dewan Perdamaian, Board of Peace. Perenungan tersebut adalah wujud dari kebijaksanaan SBY dalam memaknai akurasi dari terobosan yang dilakukan demi menambah bobot pada posisi diplomasi Indonesia di pusat perumusan kebijakan dunia. Hal ini saya rujuk sebagai bentuk wisdom dari SBY bahwa memang Indonesia sudah saatnya mengambil peran, to have a way, dalam resolusi konflik di kawasan Palestina, disaat berbagai upaya dan bentuk solusi telah di tawarkan.

 

Sejak Persetujuan Oslo I dan II (1993,1995), sampai pada Abraham Accord (2020), Indonesia bertahan pada keyakinan diplomatis pada hanya satu pihak dalam keseluruhan elemen konflik yang menjadi faktor di Timur Tengah, yang meski dengan berbagai simpulan sementara, masih meragukan rancangan solusi dua-negara sebagai satu hasil yang diinginkan oleh semua pihak.

 

Dalam tradisi analisis sejarah perpolitikan dunia, sejarah tidak bergerak secara mekanis semata, melainkan dibentuk oleh keputusan, keberanian, dan karakter individu-individu luar biasa yang muncul di waktu yang tepat. Ungkapan yang pernah dikemukakan oleh Thomas Carlyle berabad yang lampau ini saya kutip sebagai upaya untuk memaknai pendekatan resolusi konflik diwilayah Palestina ini sebagai praktik daripada kebijaksanaan dan statesmenship dari semua pemimpin yang terlibat langsung secara teknis melalui Dewan Perdamaian, dimana Presiden Prabowo Subanto berada didalamnya. Meski Prabowo menunjukkan pemahamannya pada kompleksitas kawasan tersebut dalam sudut pandang realisme, sikap kenegarawanan beliau menuntunnya untuk memahami bahwa feeding our anger, menghabiskan energi kita hanya untuk melampiaskan amarah, bukanlah  pendekatan yang akan menghasilkan solusi terbaik, apalagi dengan mengisolasi diri dari upaya diplomatik yang sedang diperbaiki hari ke hari, menit ke menit untuk perdamaian di kawasan, justru pada waktunya hanya akan merugikan kepentingan nasional. Di sinilah letak strategi dari terobosan high politics yang sedang difollow-up oleh Presiden Prabowo, memastikan suara rakyat Indonesia di dengar, dan memastikan suara itu menjadi nyata melalui Board of Peace.

 

Pada akhirnya apa yang ditempuh oleh Presiden Prabowo Subianto harus kita pandang sebagai manifestasi dari praktik keenegarawanan dalam suatu menu high politcs yang membawa dampak besar pada perdamaian dunia. Kehadiran Presiden Indonesia di isu-isu strategis dunia menjadi wujud dari kepemimpinan nasional dari sebuah negara yang sangat beragam secara domestik, tetapi satu dalam isu-isu kemanusiaan dunia yang perlu dan mendesak.  Terdapat persinggungan antara getaran empati dan strategi dalam langkah yang ditapaki itu. Dalam ilustrasi yang bernuansa melankoli, ibaratnya kita bisa tunduk terharu terhadap penderitaan warga Gaza, kita dapat saja mengirimkan kapal perang untuk misi kemanusiaan, dan mengecam penjajahan dengan lantang, tetapi kita tidak harus membakar hangus jembatan dialog dengan mitra strategis global yang vital bagi rumusan strategi resolusi damai.

 

Komitmen Prabowo terhadap Palestina terbaca secara murni dan teguh, karena berakar dari duka kolektif bangsa yang sama, yang merindukan perdamaian dunia yang abadi dan kesetaraan dalam keadilan. Inilah wajah Indonesia yang baru dimata dunia, tetap mengedepankan solidaritas kemanusiaan dalam dinamika dan kompleksitas yang tidak mudah di urai.

 

Oleh: Subhan Yusuf, M.A

 

Share News


For Add Product Review,You Need To Login First