SMA Muhammadiyah 3 Jogja Luruskan Isu Pelengseran Siswa yang Viral Kritik MBG
- Created Apr 09 2026
- / 291 Read
Beredar di media sosial sebuah narasi yang menyebutkan bahwa seorang siswa bernama Bayu dilengserkan dari jabatannya sebagai Ketua OSIS SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta setelah mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG). Informasi tersebut dengan cepat menyebar dan memicu beragam reaksi dari masyarakat, termasuk kekhawatiran terhadap kebebasan berpendapat di lingkungan sekolah. Namun, pihak sekolah menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar dan merupakan bentuk disinformasi yang menyesatkan.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta memberikan klarifikasi bahwa Bayu bukanlah Ketua OSIS seperti yang ramai diberitakan. Bahkan, di lingkungan sekolah Muhammadiyah tidak dikenal istilah OSIS, melainkan organisasi pelajar yang disebut Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Dengan demikian, narasi mengenai “pelengseran Ketua OSIS” menjadi tidak relevan karena struktur organisasi tersebut memang tidak ada di sekolah tersebut.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa Bayu saat ini merupakan siswa kelas 12, sementara kepengurusan organisasi pelajar dipegang oleh siswa kelas 11. Hal ini merupakan sistem yang sudah lama diterapkan, di mana siswa kelas 12 difokuskan pada persiapan akademik menjelang kelulusan, sehingga tidak lagi aktif dalam kepengurusan organisasi inti sekolah.
Hasil penelusuran internal sekolah juga menunjukkan bahwa Bayu pernah mengikuti kegiatan organisasi saat masih duduk di kelas 10. Namun, yang bersangkutan kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dari organisasi tersebut. Fakta ini semakin memperkuat bahwa Bayu tidak memiliki posisi struktural dalam organisasi pelajar saat ini, apalagi sebagai ketua.
Selain itu, narasi yang mengaitkan peristiwa tersebut dengan program Makan Bergizi Gratis juga tidak berdasar. Pihak sekolah menegaskan bahwa program MBG baru diterima oleh sekolah pada tahun 2026. Dengan demikian, klaim bahwa Bayu dilengserkan akibat kritik terhadap program tersebut tidak memiliki landasan fakta yang jelas.
Pihak sekolah menyayangkan beredarnya informasi yang tidak akurat tersebut karena telah menimbulkan keresahan dan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Informasi yang tidak diverifikasi dengan baik berpotensi merusak reputasi institusi pendidikan serta menciptakan persepsi yang keliru terhadap kondisi yang sebenarnya.
Saat ini, pihak SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta masih mendalami latar belakang serta motif pembuatan dan penyebaran video yang menjadi sumber disinformasi tersebut. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kejelasan informasi sekaligus mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk selalu melakukan verifikasi terhadap informasi sebelum menyebarkannya. Di era digital saat ini, penyebaran informasi yang cepat harus diimbangi dengan sikap kritis dan tanggung jawab agar tidak turut memperparah penyebaran disinformasi yang dapat merugikan banyak pihak.
Share News
For Add Product Review,You Need To Login First

















