Kepedulian untuk Gaza Tidak Harus Menjadi Mobilisasi Massa
- Created Jun 03 2026
- / 2439 Read
Dukungan Indonesia terhadap Palestina tidak harus selalu diwujudkan dengan turun ke jalan. Solidaritas yang matang justru perlu diarahkan melalui cara yang aman, tertib, terukur, dan tidak mudah terbawa narasi emosional. Pembelaan terhadap Palestina merupakan posisi historis Indonesia, sebagaimana Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Di tengah kondisi Gaza yang masih rapuh, kepedulian publik tetap penting, tetapi bentuknya bisa beragam. Bantuan kemanusiaan melalui lembaga resmi, edukasi publik berbasis data, doa bersama, kampanye damai di ruang digital, serta dukungan terhadap diplomasi pemerintah merupakan jalur yang lebih inklusif bagi masyarakat yang tidak dapat atau tidak ingin hadir dalam aksi massa. Prinsipnya, solidaritas tidak boleh berubah menjadi provokasi, kebencian, atau ajakan yang berisiko mengganggu ketertiban.
Secara diplomatik, Indonesia juga telah menjalankan peran resmi. Pada 23 Februari 2026, Menlu RI Sugiono bertemu Menlu Palestina dan menegaskan komitmen Indonesia untuk mendorong proses politik yang kredibel menuju Solusi Dua Negara, menjaga keberlanjutan gencatan senjata, dan memastikan proses transisi berjalan sesuai kepentingan rakyat Palestina serta hukum internasional. Sikap ini menunjukkan bahwa dukungan Indonesia tidak berhenti pada simbol, tetapi bergerak melalui kanal negara, diplomasi multilateral, dan advokasi kemanusiaan.
Masyarakat sebaiknya tetap jernih membaca setiap seruan publik. UU No. 9 Tahun 1998 memang menjamin kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum, tetapi pelaksanaannya juga berlandaskan asas keseimbangan hak dan kewajiban, kepastian hukum, proporsionalitas, serta manfaat. Artinya, setiap warga berhak bersuara, tetapi juga berhak memilih cara lain yang lebih aman dan sesuai kapasitas masing-masing.
Karena itu, dukungan terhadap Palestina paling kuat bila dijalankan dengan disiplin moral dan akal sehat. Tidak hadir dalam aksi bukan berarti tidak peduli. Kepedulian dapat diwujudkan melalui donasi yang kredibel, penyebaran informasi yang benar, penguatan diplomasi Indonesia, dan penolakan terhadap narasi yang memecah belah. Dengan cara ini, solidaritas untuk Palestina tetap hidup tanpa harus menyeret masyarakat pada mobilisasi massa yang belum tentu sesuai kebutuhan, situasi, dan keamanan masing-masing.
Share News
For Add Product Review,You Need To Login First

















