Monday 22-06-2026

Investasi Melesat dan Hilirisasi Kokoh, Ekonomi RI Tumbuh Capai 5,61 Persen di Triwulan I Serta Nilai Rupiah Tetap Stabil

  • Created Jun 22 2026
  • / 464 Read

Investasi Melesat dan Hilirisasi Kokoh, Ekonomi RI Tumbuh Capai 5,61 Persen di Triwulan I Serta Nilai Rupiah Tetap Stabil

Perekonomian Indonesia kembali menunjukkan performa yang tangguh dan impresif di tengah dinamika serta ketidakpastian global. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa ekonomi nasional berhasil mencatatkan pertumbuhan kokoh sebesar 5,61 persen pada triwulan I. Capaian positif ini menjadi bukti nyata bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap berada dalam jalur yang kuat, didukung oleh respons kebijakan yang cepat serta ekosistem domestik yang sangat produktif.

 

Sektor investasi tampil sebagai salah satu motor penggerak utama yang mendorong lonjakan pertumbuhan tersebut. Pada triwulan I-2026, realisasi investasi Indonesia berhasil menembus angka Rp498,79 triliun, atau tumbuh sebesar 7,22 persen secara year-on-year (yoy). Tidak hanya memperkuat struktur modal dalam negeri, geliat investasi yang luar biasa ini juga sukses menyerap sebanyak 706.569 tenaga kerja baru, mengalami kenaikan signifikan sebesar 18,93 persen (yoy). Pertumbuhan ekspansif ini didorong secara masif oleh sektor hilirisasi serta masuknya korporasi hyperscaler global yang memperkuat posisi strategis Indonesia sebagai pusat data center regional.

 

Selain menggenjot sektor riil, pemerintah juga menerapkan strategi komprehensif untuk membentengi sektor eksternal dan menekan risiko volatilitas nilai tukar Rupiah. Salah satu langkah berani yang diambil adalah menahan 100 persen Devisa Hasil Ekspor (DHE) untuk sektor nonmigas di dalam negeri selama satu tahun penuh. Kebijakan ini diperkuat secara sinergis oleh Bank Indonesia (BI) melalui perluasan kerja sama Local Currency Transaction (LCT) serta intervensi pasar yang terukur. Langkah penataan devisa ini terbukti ampuh dalam menjaga ketersediaan likuiditas valuta asing dan memberikan kepastian bagi stabilitas moneter nasional.

 

Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa sinergi erat antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan pasar. Sebagai contoh, keputusan BI menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen diambil dengan mengutamakan aspek stabilitas ekonomi dan pengendalian inflasi. Kebijakan responsif ini direspon secara sangat positif oleh pasar keuangan, yang ditandai dengan bergeraknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona hijau (green zone) serta nilai tukar Rupiah yang mengalami tren penguatan.

 

Pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga terus menjalin koordinasi ketat demi menjaga sentimen positif di pasar modal, termasuk dalam menyelesaikan proses penyesuaian indeks global terkemuka seperti MSCI dan FTSE. Melalui bauran kebijakan fiskal-moneter yang adaptif dan intervensi yang terukur, daya saing industri dan daya beli masyarakat tetap terjaga dengan baik di tengah fluktuasi geopolitik dunia. Kinerja gemilang di triwulan pertama ini menumbuhkan optimisme besar bahwa perekonomian Indonesia siap melaju stabil, aman, dan berkelanjutan sepanjang tahun.

Share News


For Add Product Review,You Need To Login First