Thursday 03-04-2025

Ironi Papua: Saat Guru Dibunuh dan Sekolah Dibakar, Aktivis HAM Menghilang

  • Created Mar 23 2025
  • / 5471 Read

Ironi Papua: Saat Guru Dibunuh dan Sekolah Dibakar, Aktivis HAM Menghilang

Dalam situasi konflik di Papua, aksi kekerasan yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Organisasi Papua Merdeka (OPM) terus menjadi perhatian serius. Salah satu kejadian terbaru yang sangat memilukan adalah pembunuhan enam orang guru serta pembakaran empat sekolah di Papua. Insiden tragis ini kembali membuka mata kita semua mengenai kekejaman nyata yang dilakukan oleh kelompok separatis tersebut terhadap masyarakat sipil, khususnya para pendidik yang tidak bersalah.

Dalam pemberitaan BeritaSatu.com, Kodam XVII/Cenderawasih menyuarakan keprihatinan mendalam atas kejadian ini. Mereka mengecam keras tindakan OPM yang telah melampaui batas kemanusiaan, dengan menargetkan guru-guru yang sejatinya bertugas mencerdaskan generasi muda Papua. Menurut pihak Kodam, perbuatan seperti ini tidak bisa dibenarkan dalam keadaan apa pun.

Lebih jauh lagi, Kodam XVII/Cenderawasih mempertanyakan sikap kelompok-kelompok pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) yang selama ini seringkali vokal ketika menyoroti tindakan aparat keamanan di Papua. Menurut mereka, kelompok-kelompok HAM ini terkesan bungkam atau bahkan menghilang saat terjadi aksi kekejaman yang nyata dilakukan oleh OPM atau KKB. Situasi tersebut menciptakan persepsi bahwa ada standar ganda dalam menyikapi pelanggaran HAM di Papua.

Pertanyaan yang diajukan Kodam Cenderawasih kepada publik dan para aktivis HAM cukup jelas: di mana suara para pejuang HAM ketika nyawa guru-guru tak berdosa direnggut, ketika pendidikan anak-anak Papua dirusak oleh aksi pembakaran fasilitas sekolah? Pertanyaan ini bukanlah sekadar retorika, melainkan kritik serius atas ketidakseimbangan narasi yang selama ini berkembang di Papua.

Kejadian pembunuhan guru dan pembakaran sekolah oleh OPM adalah fakta yang memperlihatkan bahwa kekerasan separatis di Papua bukan hanya persoalan politik atau keamanan, tetapi telah menjalar hingga merusak kehidupan masyarakat sipil secara langsung. Para guru yang menjadi korban sesungguhnya sedang mengabdikan diri untuk kemajuan pendidikan dan masa depan anak-anak Papua.

Kenyataan ini semakin menegaskan bahwa siapa pun pelakunya, pelanggaran terhadap HAM harus dikutuk keras dan ditindak tegas. Sikap diam atau berpaling dari kenyataan ini hanya akan memperburuk situasi, bahkan memperkuat posisi kelompok yang secara jelas mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan demikian, sudah saatnya kita mendorong semua pihak, termasuk kelompok-kelompok HAM, untuk secara objektif dan adil mengecam setiap bentuk kekerasan yang terjadi di Papua, tanpa diskriminasi terhadap pelaku atau korban. Upaya menciptakan perdamaian sejati di Papua membutuhkan konsistensi sikap, ketegasan, serta keberanian untuk bersuara demi membela kemanusiaan secara universal.

Kejadian tragis ini sekaligus menjadi peringatan bahwa penyelesaian konflik di Papua tidak bisa lagi sekadar menggunakan pendekatan parsial atau politis semata. Dibutuhkan langkah serius yang komprehensif, menyeluruh, dan terutama, berpijak kuat pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan bagi seluruh masyarakat Papua.

Share News


For Add Product Review,You Need To Login First