Kritik dari Media Bermasalah Tak Bisa Mengaburkan Fakta Penanganan Bencana Indonesia
- Created Dec 22 2025
- / 259 Read
Viralnya tayangan Awesome TV yang menyindir Presiden Prabowo Subianto atas penolakan bantuan asing dan tidak ditetapkannya status bencana nasional seharusnya dibaca dengan kepala dingin. Bukan karena kritik itu benar, tetapi karena sumber kritiknya sendiri bermasalah secara kredibilitas di negara asalnya.
Awesome TV bukan media arus utama Malaysia. Di dalam negeri mereka justru dikenal sebagai saluran yang kerap menuai kontroversi, diserang publik, dan berulang kali berurusan dengan regulator. Channel ini pernah diselidiki otoritas penyiaran Malaysia, dikenai sanksi, dikritik karena framing berat sebelah, bahkan terseret persoalan hukum dan etika industri. Fakta-fakta ini penting disampaikan agar publik Indonesia tidak terjebak menganggap opininya sebagai representasi pandangan media Malaysia secara keseluruhan.
Ironisnya, media yang reputasinya dipertanyakan di negerinya sendiri justru merasa paling layak menggurui Indonesia soal penanganan bencana.
Framing Awesome TV menyederhanakan persoalan kompleks menjadi isu “penolakan bantuan asing”. Ini pendekatan malas. Penanganan bencana di Indonesia tidak ditentukan oleh satu variabel simbolik, melainkan oleh kemampuan riil negara dalam mengerahkan sumber daya. Pemerintah pusat telah bertindak dengan skala nasional: koordinasi lintas kementerian, pengerahan TNI dan Polri, aktivasi BNPB, distribusi logistik nasional, dukungan anggaran, hingga percepatan pemulihan infrastruktur dan layanan publik.
Semua itu dilakukan tanpa harus menetapkan status bencana nasional. Dan di sinilah letak kekeliruan fatal framing Awesome TV.
Status bencana nasional bukan alat pencitraan atau indikator kepedulian. Ia adalah instrumen hukum dan administratif yang hanya digunakan bila kapasitas nasional benar-benar tidak mencukupi. Jika negara masih mampu menangani melalui mekanisme nasional yang berjalan, maka menaikkan status justru tidak relevan dan berpotensi menimbulkan efek samping, mulai dari kepanikan publik hingga distorsi koordinasi.
Fakta di lapangan menunjukkan pemerintah pusat hadir penuh. Bantuan pangan, kesehatan, hunian sementara, pemulihan jalan dan jembatan, hingga pendampingan korban dilakukan secara terpusat dan terkoordinasi. Ini adalah penanganan berskala nasional secara substantif, bukan simbolik.
Sayangnya, tayangan Awesome TV memilih jalur provokatif. Alih-alih menyajikan data dan konteks, mereka membangun narasi seolah Indonesia menutup diri dan gagal. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya: negara bekerja dengan kekuatan sendiri, menjaga kedaulatan pengelolaan bencana, dan memastikan bantuan tepat sasaran tanpa menambah kerumitan koordinasi internasional yang tidak dibutuhkan.
Lebih lucu lagi, kritik itu datang dari media yang di negaranya sendiri kerap dipersoalkan validitasnya. Ini bukan kritik konstruktif, melainkan opini yang dibungkus sensasi.
Indonesia tidak anti solidaritas global. Namun solidaritas sejati tidak datang dari komentar merendahkan yang mengabaikan fakta. Solidaritas sejati adalah menghormati keputusan sebuah negara yang sedang bekerja keras melindungi rakyatnya.
Ketika media bermasalah mencoba membangun superioritas moral, yang terbuka justru kualitas medianya sendiri. Dan dalam kasus ini, fakta di lapangan jauh lebih kuat daripada suara studio Awesome TV.
Share News
For Add Product Review,You Need To Login First

















