Friday 15-05-2026

Dari Dapur MBG, Ekonomi Desa Ikut Bergerak

  • Created May 15 2026
  • / 21 Read

Dari Dapur MBG, Ekonomi Desa Ikut Bergerak

Program Makan Bergizi Gratis atau MBG tidak hanya dapat dilihat sebagai program pemenuhan gizi bagi anak sekolah dan kelompok penerima manfaat. Lebih jauh, program ini juga mulai diarahkan sebagai penggerak ekonomi rakyat, terutama di tingkat desa. Melalui keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG, kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar bisa menjadi peluang baru bagi petani, peternak, nelayan, BUMDes, koperasi, hingga pelaku UMKM lokal.

Arah kebijakan ini semakin jelas setelah Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa SPPG wajib mengambil bahan baku dari desa, baik melalui BUMDes, Koperasi Desa Merah Putih, maupun pelaku usaha lokal. Dalam konteks ini, dapur MBG tidak hanya menjadi tempat memasak makanan bergizi, tetapi juga menjadi simpul ekonomi baru yang menghubungkan produksi pangan desa dengan kebutuhan program nasional.

Skema tersebut penting karena selama ini banyak produk desa belum memiliki pasar yang stabil. Petani sering menghadapi harga panen yang tidak menentu. Peternak dan nelayan juga kerap bergantung pada rantai distribusi panjang yang membuat nilai keuntungan mereka terbatas. Dengan SPPG yang menyerap bahan pangan lokal secara rutin, desa memiliki peluang untuk membangun rantai pasok yang lebih pasti, terukur, dan berkelanjutan.

Beras, sayur, telur, ikan, daging, buah, dan berbagai bahan pangan lain dapat dipasok dari lingkungan sekitar. Jika dikelola dengan baik, kebutuhan harian dapur MBG dapat menciptakan perputaran ekonomi yang nyata. Uang yang masuk ke program tidak langsung keluar ke pusat-pusat perdagangan besar, tetapi ikut berputar di desa. Petani mendapat pasar, koperasi bergerak, BUMDes hidup, UMKM memperoleh ruang, dan masyarakat sekitar ikut merasakan manfaatnya.

Data Badan Gizi Nasional juga menunjukkan bahwa program MBG telah melibatkan puluhan ribu pemasok. BGN mencatat sekitar 61.857 pemasok sudah terlibat, terdiri dari koperasi, BUMDes, BUMDesma, UMKM, pemasok perorangan, hingga Koperasi Desa Merah Putih. Dari jumlah tersebut, UMKM menjadi kelompok terbesar dengan 26.899 pemasok. Angka ini menunjukkan bahwa MBG memiliki potensi besar untuk memperluas dampak ekonomi di tingkat bawah, bukan hanya menjadi program konsumsi, tetapi juga program pemberdayaan.

Koperasi Desa Merah Putih juga diposisikan sebagai salah satu penghubung penting dalam rantai pasok MBG. Menko Pangan menyebut Kopdes dapat menyerap bahan baku dari masyarakat sekitar, seperti sayur, buah, hingga gabah, lalu memasoknya ke SPPG. Dengan pola ini, koperasi tidak hanya menjadi lembaga administratif, tetapi dapat berkembang sebagai pusat distribusi dan penguatan ekonomi kerakyatan.

Karena itu, MBG perlu dipahami sebagai program dengan manfaat ganda. Di satu sisi, negara hadir untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Di sisi lain, program ini membuka peluang ekonomi baru bagi desa. Jika rantai pasok lokal benar-benar dijalankan secara konsisten, dapur MBG bisa menjadi motor kecil yang menggerakkan ekonomi besar di akar rumput.

Tantangannya tentu tetap ada. Kualitas bahan pangan harus dijaga, pasokan harus stabil, harga harus wajar, dan tata kelola harus transparan. Namun, arah kebijakan yang mendorong SPPG belanja dari desa adalah langkah penting untuk memastikan manfaat MBG tidak berhenti di piring makan, tetapi juga mengalir ke sawah, kandang, tambak, warung, koperasi, dan rumah-rumah warga.

Pada akhirnya, MBG bukan sekadar tentang makanan bergizi. Program ini juga tentang bagaimana ekonomi desa diberi ruang untuk tumbuh. Dari dapur MBG, uang dapat berputar di desa. Dari desa, bahan pangan terbaik dapat kembali menjadi bagian dari masa depan generasi Indonesia.

Tags :

Share News


For Add Product Review,You Need To Login First