Ketika Empati Terjebak Sesat Pikir: Membaca Logical Fallacy dalam Kritik Rocky Gerung
- Created Feb 07 2026
- / 21 Read
Tragedi bunuh diri seorang anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah duka kemanusiaan yang nyata dan tidak boleh direduksi menjadi alat retorika. Peristiwa ini menuntut empati, kehadiran negara, dan kebijakan sosial yang konkret. Namun, ketika tragedi tersebut ditarik untuk menyerang kebijakan luar negeri seperti iuran Board of Peace (BoP), kritik berubah dari kepedulian menjadi sesat pikir yang menyesatkan publik.
Dalam pernyataannya, Rocky Gerung membangun narasi seolah negara dihadapkan pada pilihan moral tunggal, mengurus anak miskin di dalam negeri atau menjalankan diplomasi global. Ini adalah logika keliru. Negara tidak bekerja dengan pola salah satu atau yang lain. Kebijakan sosial dan kebijakan luar negeri berjalan pada jalur institusional, anggaran, dan mandat yang berbeda, serta dapat dan memang harus berjalan bersamaan. Membingkai keduanya sebagai pilihan yang saling meniadakan bukan kritik tajam, melainkan penyederhanaan yang keliru.
Lebih jauh, perbandingan tersebut menyamakan dua hal yang secara struktur dan fungsi tidak setara. Tragedi sosial individual, betapapun memilukan, tidak bisa dijadikan alat untuk membatalkan atau mendeligitimasi kebijakan multilateral yang menyangkut kepentingan geopolitik dan stabilitas kawasan. Menyamakan keduanya tanpa kerangka sebab akibat yang jelas bukan analisis, melainkan simbolisme emosional.
Rocky juga mengandalkan guncangan emosi untuk memenangkan simpati publik. Emosi memang sah dalam demokrasi, tetapi ketika emosi menggantikan analisis kebijakan, kritik kehilangan presisi. Tragedi di NTT tidak lahir dari satu keputusan global, melainkan dari persoalan struktural yang berlapis, seperti kemiskinan ekstrem, akses pendidikan, layanan kesehatan mental, peran keluarga, dan kapasitas pemerintah daerah. Mengabaikan kompleksitas ini sambil menunjuk satu isu global sebagai kambing hitam adalah bentuk penyederhanaan yang berbahaya.
Kritik terhadap pemerintah tetap perlu dan sah. Namun kritik yang bermutu harus akurat, proporsional, dan solutif. Mengadu duka anak dengan diplomasi internasional tidak membantu korban, tidak memperbaiki sistem, dan tidak memberi peta jalan kebijakan. Yang dibutuhkan publik adalah dorongan konkret, penguatan perlindungan sosial, intervensi pendidikan dasar, dan kehadiran negara yang nyata di wilayah tertinggal, serta evaluasi rasional atas kebijakan luar negeri berdasarkan manfaat dan risikonya.
Empati sejati tidak lahir dari sindiran yang mengaburkan logika. Ia lahir dari kritik yang presisi dan solusi yang bisa dikerjakan. Ketika kritik berubah menjadi sesat pikir, yang tersisa hanyalah kebisingan yang keras terdengar, tetapi miskin arah.
Share News
For Add Product Review,You Need To Login First
















