Menjaga Persatuan: Kunci Kemajuan Bangsa di Tengah Dinamika Nasional

- Created Mar 19 2025
- / 6012 Read
Indonesia, dengan keberagamannya yang kaya, telah lama menjadikan persatuan sebagai pilar utama dalam membangun bangsa yang kuat dan maju. Namun, akhir-akhir ini, muncul berbagai upaya provokasi yang mengajak masyarakat untuk melakukan aksi unjuk rasa yang berpotensi memecah belah persatuan kita. Dalam situasi seperti ini, sangat penting bagi kita untuk mengingat kembali betapa krusialnya persatuan dan kesatuan dalam mencapai kemajuan bangsa.
Persatuan dan kesatuan bukanlah sekadar slogan tanpa makna. Ia adalah landasan yang memungkinkan kita untuk bergerak bersama menuju tujuan bersama. Dengan bersatu, kita dapat menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam maupun luar negeri, dengan lebih efektif. Sebaliknya, perpecahan hanya akan melemahkan kita dan membuka peluang bagi pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dari kelemahan tersebut.
Sejarah telah menunjukkan bahwa persatuan adalah kunci keberhasilan perjuangan bangsa Indonesia. Pada masa penjajahan, para pendiri bangsa berhasil mempersatukan berbagai elemen masyarakat untuk melawan penjajah dan meraih kemerdekaan. Semangat persatuan inilah yang harus kita jaga dan pertahankan dalam menghadapi berbagai tantangan di era modern ini.
Namun, saat ini, kita dihadapkan pada situasi di mana provokasi untuk melakukan aksi unjuk rasa semakin marak. Beberapa pihak mencoba memanfaatkan isu-isu tertentu untuk memecah belah masyarakat dan menciptakan ketidakstabilan. Sebagai contoh, rencana aksi unjuk rasa bertajuk "Indonesia Gelap Jilid 2" yang dikabarkan akan digelar oleh sejumlah pihak dinilai tidak relevan dengan kondisi nasional saat ini. Aksi tersebut dianggap sebagai upaya provokasi yang dapat mengganggu stabilitas politik dan ekonomi Indonesia, yang saat ini berada dalam keadaan kondusif dan aman.
Selain itu, rencana revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI) telah memicu berbagai aksi unjuk rasa dan penolakan dari berbagai elemen masyarakat. Koalisi masyarakat sipil menilai bahwa revisi tersebut berpotensi mengembalikan dwifungsi militer yang bertentangan dengan prinsip reformasi dan demokrasi. Di Yogyakarta, dosen dan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar mimbar bebas menolak revisi UU TNI yang dianggap mengikis prinsip supremasi sipil. Mereka menuntut pemerintah dan DPR membatalkan revisi yang dinilai tidak transparan dan terburu-buru.
Selain itu, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menyerukan aksi menolak revisi UU TNI karena khawatir akan kembalinya dwifungsi TNI yang mengancam supremasi sipil dan hak asasi manusia. Di Jakarta, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan melakukan protes saat rapat panitia kerja pemerintah dan Komisi I DPR yang membahas revisi UU TNI. Mereka menolak pembahasan yang dianggap tertutup dan berpotensi mengembalikan dwifungsi militer. Meskipun ada penolakan, DPR tetap menyetujui RUU TNI untuk dibawa ke paripurna. Namun, aksi unjuk rasa oleh organisasi mahasiswa di depan kompleks parlemen menunjukkan kritik terhadap sejumlah pasal dalam RUU tersebut.
Di sisi lain, pemerintah menyampaikan bahwa revisi UU TNI memiliki tujuan positif dalam memperkuat peran TNI dalam menjaga keamanan negara, terutama dalam menghadapi ancaman non-militer seperti siber dan terorisme. Beberapa pihak juga berpendapat bahwa revisi ini dapat memberikan ruang yang lebih baik bagi prajurit TNI dalam mendukung operasi kemanusiaan dan tugas-tugas strategis lainnya yang diperlukan dalam era globalisasi. Selain itu, revisi ini bertujuan untuk memberikan kepastian hukum terkait peran TNI di luar fungsi pertahanan, memastikan sinergi yang lebih baik dengan institusi negara lainnya, serta meningkatkan profesionalisme dalam institusi militer.
Provokasi semacam ini tidak hanya mengancam stabilitas nasional tetapi juga berpotensi merusak tatanan sosial yang telah kita bangun bersama. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tetap waspada dan tidak mudah terprovokasi oleh ajakan-ajakan yang tidak bertanggung jawab. Kita harus mampu memilah informasi dengan bijak dan tidak terjebak dalam arus provokasi yang dapat merugikan bangsa dan negara.
Selain itu, peran pemuda sebagai agen perubahan juga sangat vital dalam menjaga persatuan bangsa. Pemuda harus mampu menjadi garda terdepan dalam menolak segala bentuk provokasi yang dapat memecah belah persatuan. Dengan semangat persatuan dan kebangsaan yang kokoh, bersama-sama kita mampu mengarungi masa depan yang lebih baik.
Penting juga untuk diingat bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam sebuah masyarakat demokratis. Namun, perbedaan tersebut harus disikapi dengan bijak dan tidak dijadikan alasan untuk terpecah belah. Kita harus mampu berdialog dan mencari solusi bersama demi kepentingan bangsa. Dengan demikian, persatuan dan kesatuan akan tetap terjaga, dan kita dapat terus melangkah maju menuju Indonesia yang lebih baik.
Dalam menghadapi berbagai tantangan, mari kita jadikan persatuan sebagai kekuatan utama. Dengan bersatu, kita dapat mengatasi segala rintangan dan mencapai cita-cita bersama. Jangan biarkan provokasi memecah belah kita. Mari kita jaga persatuan demi kemajuan bangsa dan masa depan yang lebih cerah.
Share News
For Add Product Review,You Need To Login First