Narasi Darurat 7 Hari Picu Polemik, Pakar Ajak Publik Tetap Tenang dan Rasional
- Created Jan 17 2026
- / 11067 Read
Polemik narasi “darurat 7 hari” yang disebarkan oleh Dharma Pongrekun mendapat bantahan tegas dari pakar keamanan siber Dr. Pratama Persadha. Ia menilai klaim tersebut tidak berdasar, tidak didukung data yang valid, serta berpotensi menimbulkan kepanikan publik. Menurutnya, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi dapat memperkeruh situasi dan mengganggu stabilitas psikologis masyarakat di tengah dinamika global yang penuh tantangan.
Dr. Pratama menegaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki rekam jejak panjang dalam menghadapi berbagai krisis, baik di bidang ekonomi, bencana alam, hingga ancaman digital. Ia menyebut, meskipun serangan siber secara teori dapat mengganggu layanan penting, namun risiko tersebut tidak serta-merta berarti negara akan lumpuh total. Dengan kesiapsiagaan yang tepat, dampak ancaman tersebut dapat diminimalisir. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pemerintah bersama aparat terkait dan pengelola infrastruktur kritis telah meningkatkan kewaspadaan dalam menjaga sistem vital nasional. Infrastruktur strategis seperti listrik, telekomunikasi, air bersih, dan layanan publik lainnya terus diperkuat dari sisi keamanan dan ketahanan sistem. Langkah ini menjadi bagian dari upaya negara memastikan pelayanan dasar tetap berjalan dalam kondisi apapun.
Dr. Pratama juga menekankan komitmen pemerintah untuk menjamin masyarakat tidak kehilangan akses terhadap kebutuhan hidup utama. Menurutnya, negara hadir melalui berbagai skema perlindungan dan pengamanan infrastruktur agar masyarakat tetap merasa aman dan terlindungi. Hal ini menjadi bukti bahwa narasi kehancuran negara yang disebarkan secara sepihak tidak sejalan dengan realitas di lapangan. Ia mengingatkan pentingnya literasi digital di tengah arus informasi yang begitu deras. Masyarakat diminta untuk selalu melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang diterima, terutama yang berpotensi memicu kepanikan massal. Sikap kritis dan bijak dalam mengonsumsi konten menjadi kunci untuk mencegah penyebaran hoaks dan provokasi. Informasi seharusnya tidak dipandang sebagai alat untuk menakut-nakuti publik, melainkan sebagai sarana meningkatkan kesiapsiagaan. Ia mendorong masyarakat untuk memaknai isu keamanan sebagai pengingat agar semua pihak lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan, tanpa harus terjebak pada narasi yang bersifat alarmis dan menyesatkan.
Ia juga menegaskan bahwa Indonesia tidak sedang menuju ke arah yang gelap. Justru sebaliknya, bangsa ini tengah bergerak menuju kemajuan dan penguatan di berbagai sektor strategis. Optimisme nasional harus terus dijaga agar tidak runtuh akibat informasi yang tidak bertanggung jawab. Seluruh elemen masyarakat dharapkan untuk tetap tenang, rasional, dan tidak mudah terprovokasi. Persatuan, kesiapsiagaan, serta kepercayaan terhadap upaya negara dalam menjaga stabilitas menjadi fondasi penting untuk memastikan Indonesia terus melangkah sebagai bangsa yang kuat, berdaulat, dan berdaya saing di tengah tantangan global.
Share News
For Add Product Review,You Need To Login First

















