MBG Bukan Hambur Anggaran, Tapi Fondasi Kualitas Generasi Masa Depan
- Created Jan 09 2026
- / 766 Read
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap dipersepsikan sebagai pemborosan anggaran, terutama ketika disandingkan dengan isu pendidikan, kesejahteraan guru, atau fasilitas publik lainnya. Padahal, cara pandang seperti ini cenderung menyederhanakan persoalan dan mengabaikan tujuan utama MBG sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia. Gizi anak bukan isu tambahan, melainkan fondasi dasar agar pendidikan, kesehatan, dan produktivitas dapat berjalan optimal.
Narasi yang mempertentangkan MBG dengan pembangunan sekolah, kenaikan gaji guru honorer, atau fasilitas pendidikan di daerah terpencil menciptakan kesan seolah negara harus memilih salah satu. Faktanya, kebijakan publik bekerja melalui pos anggaran yang berbeda dan dirancang untuk saling melengkapi. Program gizi anak tidak meniadakan anggaran pendidikan, sebagaimana pembangunan infrastruktur tidak menggantikan peran layanan kesehatan. Justru anak yang cukup gizi memiliki daya serap belajar lebih baik, tingkat kehadiran sekolah lebih tinggi, dan potensi prestasi yang lebih optimal.
Kritik terhadap implementasi MBG, seperti kasus teknis di satu daerah, seharusnya diposisikan sebagai bahan evaluasi tata kelola, bukan alasan untuk mendelegitimasi keseluruhan program. Program berskala nasional yang menjangkau jutaan anak tentu menghadapi tantangan di fase awal pelaksanaan. Kekurangan alat makan atau ketidaksempurnaan distribusi adalah persoalan administratif dan manajerial yang bisa dan harus diperbaiki melalui pengawasan, audit, serta pembenahan mekanisme pengadaan. Menyimpulkan bahwa MBG tidak dibutuhkan hanya dari satu kasus lokal berisiko menyesatkan opini publik.
Lebih jauh, MBG bukan sekadar program bantuan, melainkan bagian dari strategi negara memutus rantai masalah gizi buruk, stunting, dan ketimpangan kualitas kesehatan anak sejak dini. Banyak negara maju telah membuktikan bahwa intervensi gizi di usia sekolah memberikan dampak ekonomi dan sosial jangka panjang, mulai dari peningkatan produktivitas hingga pengurangan beban kesehatan di masa depan. Dalam konteks ini, MBG adalah investasi, bukan pengeluaran sia-sia.
Pemerintah sendiri menegaskan bahwa MBG tidak berdiri sendiri, melainkan berjalan seiring dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan, perbaikan sarana prasarana, dan penguatan kesejahteraan tenaga pendidik. Tantangan implementasi tidak boleh dijadikan dalih untuk menghentikan kebijakan yang menyasar kebutuhan dasar anak. Yang diperlukan adalah perbaikan berkelanjutan, transparansi anggaran, serta pelibatan publik dalam pengawasan.
Dengan pendekatan tersebut, MBG dapat terus disempurnakan tanpa kehilangan tujuan utamanya. Program ini mencerminkan komitmen negara untuk memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan tumbuh sehat dan siap belajar. Sebagaimana ditegaskan oleh Prabowo Subianto, pembangunan bangsa tidak hanya diukur dari fisik dan infrastruktur, tetapi juga dari kualitas manusia yang disiapkan untuk masa depan.
Share News
For Add Product Review,You Need To Login First
















