Tuesday 03-02-2026

Kesiapsiagaan Itu Perlu, Tapi Jangan Juga Keburu Kiamat

  • Created Jan 16 2026
  • / 172 Read

Kesiapsiagaan Itu Perlu, Tapi Jangan Juga Keburu Kiamat

Belakangan ini publik kembali diramaikan oleh pernyataan Dharma Pongrekun yang mengingatkan masyarakat soal kemungkinan situasi darurat dan pentingnya kesiapsiagaan. Narasinya tegas, bahas skenario terburuk, dari gangguan listrik hingga lumpuhnya layanan dasar. Wajar jika sebagian orang langsung bertanya tanya, ada apa sebenarnya.

Masalahnya, di era media sosial, peringatan sering kali terdengar seperti ramalan. Ajakan untuk bersiap dengan cepat berubah jadi asumsi bahwa negara sedang di ambang krisis besar. Padahal dua hal ini tidak sama. Kesiapsiagaan adalah kebiasaan rasional. Ketakutan massal adalah produk dari pesan yang lepas konteks.

Secara prinsip, siap siaga itu sehat. Negara mana pun yang waras pasti mendorong warganya punya cadangan logistik dasar, rencana darurat keluarga, dan pemahaman sederhana soal apa yang harus dilakukan saat terjadi gangguan. Itu bukan tanda negara gagal. Justru sebaliknya, itu tanda masyarakatnya dewasa.

Yang sering luput dibahas adalah kondisi riil sistem nasional hari ini. Infrastruktur vital Indonesia tidak dibangun dengan asumsi semua akan baik baik saja. Sistem kelistrikan misalnya, dirancang dengan lapisan cadangan dan interkoneksi antarwilayah. PLN hari ini bukan PLN dua dekade lalu. Gangguan masih bisa terjadi, tapi skalanya lokal dan teknis, bukan mati lampu nasional berhari hari tanpa kendali.

Begitu juga sektor lain seperti pangan, BBM, dan komunikasi. Semua punya skema kontinjensi. Tidak sempurna, tentu. Tapi cukup kuat untuk mencegah skenario horor yang sering beredar di potongan video pendek.

Di titik ini, problem utamanya bukan pada ajakan siap siaga, melainkan pada cara pesan itu disampaikan. Ketika peringatan darurat dilepaskan tanpa konteks ancaman yang jelas, publik dipaksa menebak nebak. Dan seperti biasa, netizen lebih cepat membayangkan kiamat daripada membaca data.

Ironisnya, narasi darurat yang terlalu dramatis justru bisa melemahkan tujuan awalnya. Orang jadi takut, bukan siap. Panik, bukan paham. Padahal yang dibutuhkan masyarakat bukan imajinasi bencana, tapi pengetahuan sederhana dan tenang tentang apa yang masuk akal untuk dipersiapkan.

Kesiapsiagaan seharusnya membumi. Punya senter, obat pribadi, air bersih, dan rencana komunikasi keluarga. Bukan sibuk menghitung hari menuju kehancuran. Negara bekerja dengan sistem, bukan dengan firasat.

Pada akhirnya, publik perlu membedakan antara waspada dan was was. Yang pertama bikin kita siap. Yang kedua cuma bikin capek. Mengingatkan itu baik. Menakut nakuti tanpa pijakan justru kontraproduktif.

Kalau semua ajakan darurat langsung dipercaya sebagai tanda kiamat, bisa bisa nanti hujan semalam pun dianggap pertanda akhir zaman. Padahal kadang, yang kita butuhkan cuma satu hal sederhana. Tenang, baca utuh, dan pakai logika.

Share News


For Add Product Review,You Need To Login First